Tipe habitat
|
Ciri organisme
|
Contoh organisme
|
Pantai berbatu
|
-organisme dapat beradaptasi pada kondisi ekstrim
-organisme memerlukan sinar matahari yang cukup
-Mampu hidup pada perubahan iklim seperti meningkatnya air laut dan temperatur air
-Mampu beradaptasi pada salinitas yang berfluktuatif.
-Organisme tersebut memiliki adaptasi mekanikal termasuk kemampuan untuk menutup cangkang atau menggali lubang pada saat salinitas ekstrim.
-Mayoritas organisme intertidal tergantung pada oksigen
-kemampuan melakukan beberapa adapatasi seperti kulit mengandung sement maupun zat kapur, tubuhnya fleksibel, melekat pada batu dan atau berlindung pada lubang dibatu
-Mempunyai alat perekat kuat pada substrat
Sumber :
Bertness et al (2006) Bertness MD, Crain BR , Silliman MC, Azterrica MV, Reyna F, Hildago, Farina, 2006. The Community Structure of Western Atlantic Patagonian Rocky Shores. Ecological Monographs.1(1):1-9.
|
Bivalvia, Siput Littorina, lumut hitam, teritip, ganggang yang besar (Laminaria)
|
Pantai berpasir
|
- Hewan hidup aktif bergerak atau hewan hidup dalam lubang
- Organisme mampu hidup dalam habitat yang panas, terpapar dan berfluktuasi
- Mampu hidup pada kondisi minim oksigen
- Mampu hidup pada salinitas yang berfluktuatif
- Mempunyai daya tahan terhadap kehilangan air
Sumber :
Fadli, Nur, Setiawan, Ichsan, fadhilah, Nurul.2012. Keragaman makrozoobenthos di perairan Kuala Gigieng Kabupaten Aceh Besar. Reaktor. 1 (1) : 45-46.
|
cacing polikaeta, Moluska bivalvia, dan crustasea, cacing, kepiting, bintang laut maupun kerang-kerang
|
Pantai berlumpur
|
-Memiliki kemampuan untuk menggali dengan cepat
-Kebanyakan orrganisme deposit pengumpan dan makan lumpur
-Mampu memelihara keseimbangan panas
Sumber :
Kranenburg. 2002. Nutrition and food limitation of deposit feeders 1. The role of microbes in the growth of mud snails. J Mar Res. 39:531
|
Bakteri anaerobik, cacing, bivalvi, gastropoda, udang-udangan, kepiting terutama jenis kepiting rebab, kepiting petapa, kepiting sepatu kuda, tiram
|
Kolam pasang
|
-Kebanyakan organisme pemakan makanan deposit
-Mampu memelihara keseimbangan panas
-Mempunyai alat perekat kuat pada substrat
-Organisme dapat beradaptasi pada kondisi ekstrim
|
Eucheuma serra dan Gracilaria coronopifolia
|
Estuari
|
Tiga komponen fauna utama penghuni estuaria yaitu fauna laut, tawar dan fauna khas estuaria itu sendiri.
-fauna laut : terbesar dalam jumlah spesies dan individunya, karena sebagian besar fauna laut bersifat eurihalin sehingga mampu menembus dan masuk estuaria sampai batas salinitas rendah
-fauna estuari : dari spesies yang terdapat pada kisaran salinitas antara 5‰ - 30‰, tetapi tidak ditemukan di air tawar maupun yang sepenuhnya
air laut
-fauna tawar : umumnya bersifat stenohalin sehingga tidak mampu menghuni estuaria dengan salinitas di atas 5‰.
|
Anguila sp, Crassostrea ostrea, siput kecil (Hydrobia), tiram dan udang, dan stadia juvenil beberapa jenis udang Penaidae, kerang dan kepiting serta berbagai macam ikan seperti famili Clupeidae,Engraulidae, Gobiidae, dan Leoignathidae
|
Flora
-Hampir semua bagian estuaria terus menerus terendam dan terdiri dari substrat lumpur halus sehingga tidak cocok melekatnya makroalga.
-Kekeruhan yang sangat tinggi juga menyebabkan terbatasnya daya tembus cahaya matahari ke lapisan yang dangkal sekalipun, sehingga lapisan dasar estuaria miskin tumbuhan hidup.
- Organisme estuari rentan terhadap perubahan lingkungan perairan seperti peningkatan suhu air, perubahan salinitas, dan penurunan kadar oksigen terlarut.
Sumber :
Dahuri R. 2003. Keanekaragaman hayati laut: Aset pembangunan berkelanjutan Indonesia. Jakarta (ID) : PT Gramedia Pustaka Utama.
|
Hanya ada beberapa jenis algae yang sering ditemukan di sebstrat dasar estuaria antara lain: Ulva, Enteromorpha, Chaetomorpha dan Cladophora, namun algae ini juga bersifat musiman.
|
Saltmarsh
|
-Organisme membutuhkan intensitas cahaya tinggi
-Untuk tumbuhan mampu melakukan fotosintesis
|
Terdiri dari berbagai tanaman seperti kumbuh, teki tahunan, dan rumput, bakteri
|
Mangrove
|
Flora mangrove
- Kondisi lingkungan yang kadang ekstrim, misalnya karena genangan air laut, kekeringan, perubahan salinitas, dan substrat berlumpur yang cenderung anaerob, menyebabkan flora mangrove harus memiliki kemampuan adaptasi, baik secara morfologis maupun fisiologis.
- Akar tunggang (prop root), untuk menunjang tegaknya pohon agar tetap bertahan dari hempasan ombak, tetapi juga memiliki tunas vegetatif yang merupakan salah satu ciri dari tumbuhan yang beradaptasi terhadap kekeringan.
- Kondisi yang miskin oksigen, tumbuhan mangrove memiliki sistem perakaran yang disebut dengan akar nafas (pneumatophore) yang muncul ke permukaan tanah.
- Berkembang biak secara vivipar (viviparity).
- Memiliki daun yang relatif tebal dan memiliki jaringan internal untuk menyimpan air dan kadar garam tinggi serta diperlengkapi dengan kelenjar garam yang membantu menjaga keseimbangan osmotik.
|
Bakau (Rhizophora), Api-api (Avicennia), Pedada (Sonneratia), Tancang (Bruguiera), Tingi (Ceriops), Nyirih (Xylocarpus), Teruntun (Aegiceras), Dungun (Heritiera), Nipah (Nypa fructicans), dll. Termasuk dalam kelompok tumbuhan mangrove ikutan antara lain: Pandan (Pandanus sp), Waru laut (Thespesia sp), Jarongan (Stachytarpheta sp), Seruni laut (Sesuvium sp), Tapak kuda (Ipomea pes-caprae (L.) Sweet)
|
Fauna mangrove
- Fauna terrestrial memiliki adaptasi khusus untuk hidup di ekosistem mangrove. Mereka mencari makan berupa organisme laut (terutama pada saat surut), tetapi mereka hidup pada zona yang berada diluar jangkauan pasang air laut (pada bagian pohon yang tinggi).
Ikan glodok :
- Mata terletak tinggi pada kepala dan tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk fokus yang baik di udara dari pada di air.
- Sistem respirasi (pernapasan) juga mengalami adaptasi, yaitu dengan berkurangnya jumlah insang dan pernapasan disempurnakan dengan adanya kantung udara yang bervaskularisasi di dalam rongga mulut dan ruang-ruang insang.
- Bergerak dengan berjalan menggunakan sirip dadanya yang kuat atau dengan melompat dan memanjat akar mangrove.
Sumber :
Olii AH, Muhlis, Djau MS. 2014. Ekosistem dan organisme yang berasosiasi di perairan Kwandang kabupaten Gorontalo Utara [laporan akhir]: Gorontolo (ID): Universitas Negeri Gorontalo.
|
Fauna yang dominan pada ekosistem mangrove adalah moluska (gastropoda dan bivalvia), crustacea (udang dan kepiting) dan beberapa jenis ikan. Gastropoda diwakili oleh Littorinidae yang umumnya hidup pada akar dan batang serta daun mangrove. Bivalvia yang banyak ditemukan antara lain: kerang hijau, tiram, kerang darah dan lain-lain. Crustacea yang banyak ditemukan antara lain: udang pineid, kepiting bakau, Uca, kepiting hantu (Dotila, Cleistostoma), dan lain-lain. Ikan yang khas ditemukan pada ekosistem mangrove adalah dari genus Perioptalmus, yang umum dikenal sebagai ikan glodok
(mud skipper).
|
Padang lamun
|
-Mayoritas gastropoda di padang lamun bersifat detrivorous, sangat sedikit yang memakan lamun hidup.
-Terjadi siklus makan dan dimakan (food chain cycle), sehingga menjadikan padang lamun sebagai sumber plasma nutfah yang sangat potensial
Sumber :
Kordi MGH. 2011. Ekosistem lamun (sea grass) : Fungsi, Potensi dan Pengelolaan. Jakarta (ID) : Rineka Cipta.
|
Haemulon parrai, Haemulon sciurus, Lutjanus apodus, Lutjanus griseus, Sparisoma chrysopterum, Sphyraena barracuda, Enhalus acoroides, Thalasia hemprichii, Cymodecea serullata, dan Syrongidium isoetifilium
|
Terumbu karang
|
- Ikan bermigrasi mengikuti pola pasang surut.
- Ikan-ikan dari daerah terumbu karang atau ikan dari laut terbuka akan bergerak menuju padang lamun dan mangrove saat pasang naik untuk mencari makan dan akan kembali saat surut.
- Semua jenis ikan pada terumbu karang masuk kedalam jaring makanan dalam beberapa cara sehingga terdapat keseimbangan yang rumit dari hubungan mangsa dimangsa
- Ikan karang mempunyai ciri-ciri:
Umumnya menetap, berukuran relatif kecil, gerakannya relatif mudah dijangkau oleh pengamat, hidup di perairan tropis, dan umumnya bersifat territorial. Jenis substrat tempat hidup ikan karang yaitu: Karang hidup, karang mati, pecahan karang, pasir dan karang lunak. Sebaran ikan karang dipengaruhi oleh beberapa hal seperti: Kebiasaan, habitat, arus dan larva. Ikan karang ditemukan pada kedalaman 0 sampai >20 meter.
Sumber :
Pratiwi R. 2012. Asosiasi Krustasea di Ekosistem Padang Lamun Perairan Teluk Lampung. Jurnal Ilmu Kelautan. 15 (2) 66-76.
Olii AH, Muhlis, Djau MS. 2014. Ekosistem dan organisme yang berasosiasi di perairan Kwandang kabupaten Gorontalo Utara [laporan akhir]: Gorontolo (ID): Universitas Negeri Gorontalo
|
Jenis ikan karang ditemukan sekitar 26 famili
diantaranya famili Chaetodontidae, Pomacentridae dan Labridae.
-Bulu babi (Diadema), hewan bangsa kerang-kerangan (Pelecypoda), ubur-ubur (Jellyfish), bintang mengular (Ophiuroidea), bintang laut (Asterias sp), sea anemones, cumi (Loligo sp), gurita (Octopus spp).
|
Laut lepas
|
- Ikan-ikan dari daerah terumbu karang atau ikan dari laut terbuka akan bergerak menuju padang lamun dan mangrove saat pasang naik untuk mencari makan dan akan kembali saat surut.
- Jenis ikan yang sebagian besar hidupnya berada pada lapisan permukaan perairan (sekitar 0-200m). Ikan pelagis hidup secara bergerombol dalam mencari makan ataupun bermigrasi/ruaya dan juga dalam melakukan perkawinan (berpijah).
Sumber :
Sunarto. 2008. Karakteristik biologi dan peranan plankton bagi ekosistem laut [skripsi]. Bandung(ID): Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
|
-Jenis diatom yang banyak dijumpai di perairan lepas pantai Indonesia antara lain Chaetoceros sp., Rhizosolenia sp., Thalassiothrix sp. dan Bachteriastrum sp.
.
-Ikan pelagis kecil : teri, lemuru, tembang, japuh, kembung.
- Ikan pelagis besar : Ikan tuna, cakalang dan cucut
|
Laut dalam
|
- Komunitas yang ada pada ekosistem laut dalam kemungkinan adalah hewan-hewan saprovora, karnivora, dan detritivora.
- Karena terbatasnya sumber materi dan energi, maka keanekaragaman jenis makhluk hidup pada ekosistem laut dalam paling rendah dibandingkan ekosistem laut lainnya.
- Bentuk tubuh biota laut dalam yang kecil dan pada umumnya bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen.. Secara morfologis, senjata pembunuh seperti rahang, tengkorak dan dimensi mulut mengalami perubahan pada organisme laut dalam.
- Ciri umum adalah mulut yang melebar, rahang yang kuat dan gigi-gigi tajam. Praktek kanibalisme juga sering terjadi di beberapa spesies.
- Bioluminescence adalah cahaya yang dapat dihasilkan oleh beberapa hewan laut, cahaya tersebut berasal dari bakteri yang hidup secara permanen didalam sebuah perangkap. Bioluminescence digunakan oleh hewan laut dalam sebagai alat perangkap atau alat untuk menarik mangsa, kurang lebih bioluminescence berfungsi sebagai umpan.
- Organisme laut dalam mempunyai kapasitas untuk mengolah energi yang jauh lebih efektif dari makhluk hidup di darat dan zona laut atas. Mereka bisa mendaur energinya sendiri dan menentukan seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan stok makanan yang didapat.
|
Phronima, Cumi-cumi, Amoeba, Comb Jelly, Cope pod, dan ikan Hatchet.
-Ikan Hairyangler yang tubuhnya dipenuhi dengan atena sensitif, antena tersebut sangat sensitif sekali terhadap setiap gerakan, fungsinya untuk mendeteksi mangsa yang ada didekatnya.
-Ikan Fang Tooth yang memiliki tingkat agresifitas yang tinggi sehingga ketika ada mangsa yang lewat didepannya ia langsung dapat dengan cepat memakannya, karena memang tidak banyak hewan laut yang mampu hidup dalam ekosistem ini.
|